ATRIAL FIBRILASI

Atrial Fibrilasi

  1. KLINIS
  • Palpitasi/ ndredeg
  • Gelombang QRS rapat, capat dan tidak teratur. Gelombang P tidak dapat dikenali.
  • Heart rate cepat > 100x/menit

AF Rapid jika dibiarkan bisa menjadi decompensasi cordis yaitu jika heart rate ≥ 220-usia.

  1. ETIOLOGI
  • Pada atrium terdapat banyak focus
  • Repetitive yaitu impuls timbul lebih dari 1x
  • Siklus movement yaitu impuls yang seharusnya dihantarkan sampai ke otot jantung kembali lagi ke SA node
  1. TINDAKAN
  • Mengontrol irama yaitu mengembalikan ke irama sinus dengan menggunakan digitalis, jika gagal dilakukan rate control.
  • Mengontrol kecepatan yaitu dengan menggunakan amiodaron, kardioversi
  • Pemberian anti koagulan
  1. KLASIFIKASI AF BERDARSARKAN DURASI
  • Paroxismal AF

    Yaitu munculnya kurang dari 7 hari, pernah kembali ke sinus rythme. AF jenis ini harus cepat dikembalikan ke irama sinus karena jika dibiarkan akan terjadi remodeling rythme atau terbentuknya alur arus yang baru, sifatnya buruk dan akhirnya menetap.

  • Persisten AF

    Yaitu muncul sampai dengan 1 tahun, terus menerus, tidak pernah kembali ke irama sinus, kecuali diberikan intervensi atau obat

  • Permanen AF

    Yaitu AF yang muncul lebih dari 1 tahun, intervensi/obat menjadi tidak berguna.

Untuk mengetahui AF yang mungkin bisa dikembalikan ke irama sinus :

  • Kaji apakah pasien pernah di ECG, jika ada bandingkan dengan ECG yang baru apakah pernah kembali ke sinus.
  • Jika ECG tidak ada, kaji keluhan pasien apakah sering berdebar-debar
  • Jika ada thorax foto lihat apakah ada pembesaran jantung, jika ada berarti AF sudah diderita lama.
  1. PEMBERIAN LANOXIN PADA AF

    Salah satu tindakan pada AF Rapid adalah pemberian digitalis/digoxin intravena, ex : Lanoxin.

    1. Sebelum pemberian Lanoxin :
  • Pemeriksaan ECG yaitu lead II panjang
  • Pasang oksigen
  • Kaji keluhan dan vital sign
  1. Cara pemberian :
  • Lanoxin … mg(dosis tergantung advis dokter ) diencerkan dngan aquabidest 5-10 cc dimasukkan intravena bolus pelan.
  • Dalam 1 ampul/2 ml lanoxin berisi 0,5 mg. Pemberian bisa diulang dalam selang waktu 2-4 jam dengan dosis maksimal 1,5-1,75 mg. Dosis ulangan tergantung klinis dan kecepatan heart rate pasien.
  1. Setelah pemberian :
  • Pemeriksaan ECG lead II panjang 4 dan 6 jam setelah pemberian Lanoxin.
  • Observasi vital sign terutama tensi karena efek lenoxin bias menurunkan tensi. Jika tensi turun dilakukan fluid challenge test 20-50 ml/kg BB.

Hati-hati pemberian Lanoxin pada orang tua, pasien dengan serum creatinin tinggi, hipokalemi ( karena kerja digitalis adalah menghambat pompa Na/K ), dan hipokalsemi.Gejala keracuna digitalis yaitu mual muntah. Keluhan tersebut bias mendahului perubahan gambaran ECG.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s